PASAR TRADISIONALKU DIRAMPAS
Opini yang berkembang di masyarakat menjadi polemik panas yang di isukan bahwa pasar tradisional merusak citra lingkungan, sehingga ini semua harus diselesaikan bersama-sama antara pemrintah, pedagang, dan masyarakat. Sangat disayangkan ketika pasar tradisional ini disulap menjadi pasar modern/Mol, kemana mereka pedang kaki lima akan mencari lapak untuk mendapatkan nafkah menghidupi keluarganya dan diri sendiri, apakah sampai sejauh itu pemerintah daerah (PEMDA) berfikir? Saya pikir tidak, dimana hak-hak kebebasan mereka yang katanya pemerintah melindungi setiap warga negaranya? Hak-hak mereka telah di ambil oleh oknom, dan pemerintah daerah (PEMDA) yang bekerjasama dengan investor yang tidak perduli terhadap nasib kaum miskin yang selama ini mereka mencari nafkah dari pasar tradisional itu.Pasar Dinoyo Malang contohnya yang konon kabarnya akan digusur dijadikan Mol, seharusnya pemerintah daerah (PEMDA) mempunyai pandangan apa yang akan terjadi jika itu terealisasikan, pengangguran akan bertambah, angka kemiskinan akan semakin meningkat, dan yang paling disayangkan kemungkinan besar terjadi, anak-anak yang tidak tahu apa-apa akan putus sekolah hanya dikarenakan penggusuran yang tidak manusiawi itu, walaupun pemerintah dan investor memberi uang ganti rugi. Namun, itu hanya bersifat sementara dan mereka tidak lagi mempunyai penghasilan tetap sehari-hari seperti biasanya. Alhasil, mereka akan meratapi nasib yang seharusnya itu tidak terjadi.
Pemerintah daerah (PEMDA) seharusnya mengambil sikap yang sama-sama tidak merugikan salah satu pihak, kelolahlah kekayaan alam dengan kreatifitas ilmu pengetahuan. Kebudayaan pasar tradisional selama ini yang menjadi salah satu penyumbang devisa. Negara yang seharusnya dilestarikan dan dijaga bukan malah disulap dijadikan Mol, ini semua adalah problematika yang harus kita selesaikan bersama antara pemerintah daerah (PEMDA), masyarakat, dan pedagang sehingga tidak akan terjadi problem yang berlarut-larut. Alangkah damai dan sejahteranya negeri ini, jika kita saling merangkul mereka yang membuthkan, mudah-mudahan kesadaran menyertai mereka yang selalu menyusahkan kaum miskin dan kemiskinan bisa di dientaskan di negeri kita ini. Marilah kita mengambil hikmah dari setiap kejadian untuk catatan memulai langkah awal semakin lebih baik dengan persatuan dan rasa persaudaraan yang erat.
Itu yang harus kita tanamkan sejak dini sebagai pengikat persatuan diantara warga Negara yang mana, kita adalah mahluk zone politicon (makluk yang saling membutuhkan). Namun, itu tidak ada diantara kita, mereka orang yang berpendidikan dan kaya, hanya memikirkan kehidupan mereka sendiri tidak pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling kita. Dimana hak-hak kita sebagai kaum miskin? Seolah-olah hak itu bisa dibeli dengan uang dan kita tidak berarti apa-apa jika di hadapkan dengan status sosial yang tinggi itu. Tentu, kita tidak terima dengan keadaan itu, kita tetap berontak melawan hal-hal yang kita anggap itu adalah penindasan bagi kita yang menguntungkan salah satu pihak.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menumbuhkaan pola pikir dan tindakan yang tidak merugikan orang lain, memberikan solusi cerdas untuk mengatasi problematika yang terjadi di lingkungan sekitar kita sehingga tidak ada lagi kata-kata penindasan dan pihak yang dirugikan.
By: Ach.Taufiqurrahman*FKIP Jurusan Bahasa Inggris UNISMA*
CURICULUM VITAE
Nama : Ach. Taufiqurrahman
Tempat tgl lahir : Kr. Anyar Paiton Probolinggo 21-02-1988
Alamat sekrang : Jl. Joyo Mulyo Malang no. 338
Phone : 08973871708
Pendidikakan terakhir : MI Nurul Jadid
MTS Nurul Jadid
SMA Nurul Jadid
Pendidikan sekarang : FKIP Jurusan Bahasa Inggris Semester lll UNISMA
Pengalaman organisasi: Anggota ESA (English Student Association) FKIP UNISMA
Anggota fenomene lembaga pres masiswa UNISMA
Anggota teater bangkit UNISMA
Wakil ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia rayon Al-Kindi UNISMA
Wakil ketu IMPRO (Ikatan Mahasiswa Probolinggo) UNISMA
Tulisan pernah dimuat: Gagasan judul pusat pengaduan di KBRI jawa pos (22/11/10)
Opini judul paradigma pendididkan Indonesia bulletin mahasiswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar