Jumat, 31 Desember 2010

paradikma pendidikna indonesia



PARADIGMA PENDIDIKAN INDONESIA
Mutu pendidikan Indonesia akhir – akhir ini banyak disoroti dari berbagai kalangan, hal ini tidak lepas dari realitas obyektif dalam dunia pendidikan yang menuai banyak masalah dan tidak pernah memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi polemik pendidikan di Indoesia. Indonesai termasuk negara yang masyarakatnya minim mengerti tentang pendidikan dan inilah polemik yang harus kita atasi bersama, sebagai mahasiswa  agen perubahan  agen of change.
Pendidikan akan mengikuti perkembangan jaman dan akan selalu menuntut kita semua untuk terus  maju sesuai dengan perkembangan jaman. Ini semua adalah tantangan yang tidak bisa kita hindari lagi, apalagi banyak lembaga – lembaga asing yang marak masuk ke Indonesia. Menurut logika kaum maxian ”  Kita adalah kompetitor untuk berkompetisi dalam dunia pendidikan karna tidak akan ada dinamika tanpa kompetisi ”.
Oleh karena itu, salah satu agenda Departemen Pendidikan Nasional sekarang adalah mencetak siswa atau mahasiswa agar memiliki kemampuan, IPTEK dan IMTAQ agar bisa bersaing untuk menghadapi perkembangan jaman. Persaigan akan ketatnya pendidikan sudah dimulai, tetapi semua itu diluar sadar kita, memang kita harus mengakui bahwa pendidikan kita kalah jauh kalau dibanding dengan pendidikan lain di Asia Tenggara sana.
Apa yang harus kita perbuat? Apa hanya duduk manis melihat mereka menunjukkan eksistensinya dalam pendidikan? Menurut Mohammad Iqbal, seorang pemikir Islam Pakistan ” Siapapun yang berhenti meskipun sejenak pasti akan tergilas ” Artinya yang mempunyai kualitaslah yang akan menjadi penguasa, yang menjadi persoalan adalah sebagian besar masyarakat Indonesia belum siap untuk berkompetisi karena rendahnya kualitas SDM, menurut Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. “ manajemen dan mutu pendidikan di Indonesia yang kualitasnya masih diragukan ”.
Pendidikan yang bermanfaat adalah pendidikan yang menimbulkan pemikairan kritis terhadap keadaan, bisa beradaptasi dengan cepat dalam membawa perubahan ke hal yang lebih positif, dan tujuan pendidikan adalah ingin terbentuknya sebuah tatanan masyarakat sosial yang dalam hidupnya menjadikan pendidikan sebagai tolok ukur kita untuk menjadi lebih baik, baik itu pendidikan Islam maupun pendidikan Umum.
Hiruk pikuk akan ketatnya daya saing dan menuntut kita  untuk menghapapi tuntutan global, betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan untuk mengangkat derajat seseorang, tetapi  kenapa masyarakat kita tidak sadar akan begitu pentingnya pendidikan? Siapa yang harus disalahkan negara, menteri pendidikan, ataukah kita? Kita kembali kepada kesadaran kita masing – masing akan kebutuhan pendidikan untuk masa depan dan menghadapi tuntutan global.
Degan demikian, kesadaran  adalah kunci utama yang harus dibina dalam diri kita dan yang menjadi hal paling pokok untuk pengendalian diri sendiri. Jika hal ini dijadikan prioritas utama dalam kehidupan kita, maka akan ada kontrol yang hebat dan peggendalian diri atas dasar kemajuan pendidikan dan tuntutan  untuk menghadapi peradaban dunia global. Semoga Allah SWT. Selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan ummat Islam... Amin...yarobbal...‘alamin.
                                                         

    By: Ach. Taufiqurrahman
    Pen.  Bhs. Iggris / Class D

Minggu, 26 Desember 2010

Garudaku menagis

Hal ini cukup menyakitkan ketika indonesia dikalahkan telak 3-0 tetapi ini semua tidak menyurutkan semangat para punggawa sang merah putih untuk bermain lebih baik lagi ketika bermain di stadion BUNGKARNO pada tanggal 29 nanti, saya dan tentunnya juga bangsa indonesia berharap para punggawa sang merah putih itu bisa bangkit dari kekalahan untuk menuju kemenagan. kekalahan itu semua disebabkan karena indonesia meremehkan permainan lawan pada final leg pertama. oleh sebab itu, ini yang harus disadari pelatih dan para pemain indonesia untuk mewaspadai hal-hal yang tidak terkira sebelumnya, inilah kekurangan yang ada di negara kita diberi menang sedikit saja sudah mulai ngelunjak dengan membagi-bagikan koas timnas merah putih, ada-ada saja cara politikus indonesia dalam menebar pesona. momen pertandingan piala AFF 2010 leg pertama juga tidak disia-siakan untuk mencari simpati. kemarin (25/12), jika memang mereka ikhlas memberikan kaos untuk tujuan mendukung team kesanyangan kita kenapa masih ada embel-embel nama sperti Bakrie atau Menakertnas, biasalh orang berpolitik tidak akan memberi jika tidak ada maunya.
marilah kita sadar diri untuk menuju hal yang lebih baik coba bayangkan, di ajang yang bergengsi ini para politukus masih sempat-sempatnya mengambil kesempatan untuk berpolitik dasar politikus, yang ada di benaknya hanya kekuasaan dan ketenaran untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini.
hiduplah indonesiaku, saya bangga padamu para punggawa timnas, setidaknya kalian juga kami anggap pejuang yang membela negara  untuk menharumkan nama bangsa ini. sebenarnya kalianlah yang patut di acungi jempol malah bukan para politukus yang hanya membawa derita bagi rakyat indonesia.

Sabtu, 25 Desember 2010

TKI PAHLAWAN DEVISA NEGARA


TKI PAHLAWAN DEVISA NEGARA

Issue pemberitaan tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) akhir-akhir ini menjadi pemberitaan hangat yang selalu di muat di media massa membahas nasib mereka yang ada di negeri orang, merantau untuk mencari penghasilan demi melanjutkan kelangsungan hidup diri sendiri dan keluargnaya. Namun, kasus yang menimpa mereka sanggat memprihatinkan ketika mereka tidak mendapatkan perlindungan hukum yang layak dari pemerintah, padahal jika kita boleh menyebut mereka, TKI adalah pahlawan devisa bagi Negara Indonesia. Hal itu cukup disayangkan jika melihat jumlah TKI yang berangkat setiap tahun dan sumbangsih devisa dari para TKI tersebut bagi kelangsungan perekonomian Indonesia. Di Arab Saudi saja, tercatat sekitar 1 juta TKI dengan sumbangan devisa USD 2 miliar. (jawa pos,19/11/10)
Masalah tenaga kerja Indonesia internasional ini menjadi permasalahan komplek yang harus di selesaikan, semua ini tidak lepas dari perdagagan secara legal maupun ilegal diantara dua Negara ataupun lebih.  Pemerintah Indonesia untuk saat ini memandang biasa dengan adanya pasar tenaga kerja Indonesia (TKI), Prof. M. Sandi mengatakan,  ditinjau dari analisa ekonomi maka bisa dilihat dua pasar tenaga kerja yang terbesar mencakup TKI Indonesia yang masuk Malaysia secara legal. Mengenai jumlahnya tidak ada angka yang tepat. Mungkin sekitar 1,5  juta orang. Pada umumnya di pasar ini bukan persoalan yang sengit. Pasar kedua adalah pasar TKI Indonesia yang illegal. Jumlahnya tentu tidak ada kepastian, tetapi angka 600-800.000 sering disebut. Masalah yang mencuat (deportasi, perlakuan tidak manusiawi, eksploatasi, dsb-nya) ada di pasar ini.” Namun pemerintah Indonesia hanya biasa-biasa saja mengamabil sikap maupun kebijakan, padahal ini adalah masalah serius yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Semua ini memerlukan usaha keras untuk mengatasi masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang legal maupun ilegal tidak hanya menyalahkan satu pihak. Tenaga kerja Indonesia (TKI) perlu perlindungan dari pemerintah sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti tindakan kekerasan, pemerkosaan dan lain sebagainnya terhadap TKI, tenaga kerja Indonesia membantu sumbangsih devisa pemerintah yang sangat besar bagi APBN, tetapi apakah pemerintah hanya menggambil keuntugan dari tenga kerja Indonesia (TKI)? dan mengabaikan tanggung jawabnya untuk melindugi setiap warga negara. Ini sangat memprihatinkan ketika tidak ada ketegasan dari Negara terhadap TKI, padahal TKI itu adalah aset Negara yang harus di pertahankan dan diperhitungkan.
Sejauh ini selama periode kepemimpin presiden SBY masalah TKI ini masih sulit untuk diatasi dikarenakan belum terpenuhinya target ekonomi nasional yang mapan sudah menjadi pasti dengan sistem perekonomian yang kurang mapan itu belum bisa menyerap peganguran baru maupun yang lama. Setiap tahun angka pengangguran bertambah kurang lebih 2 juta. Ini juga menjadi salah satu penyebabab merantaunya saudara-saudara kita ke negeri orang untuk mengadu nasib, ini semua dikarenakan didalam negeri tidak ada alternatip dan minimnya angka lapangan pekerjaan sehingga mereka terpaksa menjadi TKI legal maupun ilegal. Namun, semuanya ini membutuhkan waktu jangka panjang dan rencana matang untuk megatasi pengganguran dalam negeri ini. Maka jangan berharap masalah TKI  ini bisa diselesaikan tahun ini atau yang akan datang.
Oleh karena itu, harus ada penaganan khusus bagi masalah ini untuk membantu mereka yang kesulitan dalam segi ekonomi untuk melanjutkan kelangsungan hidup mereka dengan menumbuhkan jiwa-jiwa kewirausahaan dan dimodali oleh pemerintah, dengan itu semua secara perlahan-lahan akan terbentuk lapangan pekerjaan baru, dan dengan semakin terbukanya lapangan pekerjaan itu diharapkan bisa menekan angka TKI dan pengangguran di dalam negeri. Mari kita bersama-sama berfikir cerdas untuk mengatasi masalah ini, memberikan solusi terbaik untuk Negeri ini.